Posted by : Ario Yunanto || Submit date : 2009-10-16 08:56:52
Pepatah memang sudah mengungkapkan. Kian tinggi pohon, kian kencang pulalah angin menerpanya. Pun sama halnya dengan komoditas sawit Indonesia. Semakin luas penguasaan pasarnya, semakin kencang pula serangan yang dilancarkan negara kompetitor.
Tak sanggup menemukan kelemahan sawit, serangan diarahkan ke sektor lingkungan. Dan terakhir soal sawit yang merusak kawasan gambut. Lantaran ‘kemakan ‘ isu ini, sebuah negara bagian di Amerika Serikat, Minnessota, per 1 juni kemarin, melarang penggunaan biodiesel sawit.
Kendati hanya negara bagian, namun ini sempat membuat Anton Apriyantono, Menteri Pertanian, meradang. Selain, tidak ada pemberitahuan, yang semestinya, harus mereka lakukan setahun sebelumnya. Lagi pula itu harus dinotifikasi ke World Trade Organization – WTO, organisasi perdagangan dunia, dan itu tidak mereka lakukan.
Lalu, dalam melangsir larangan itu, negara bagian Minnesota, tidak merinci jelas alasannya. Tapi diyakini faktor lingkungan yang dijadikan tamengnya. Sebab, setelah mereka tak mampu membuktikan, bahwa sawit mengandung kolestrol tinggi, tak ada alasan lain, keculai sawit telah merusak lingkungan.
Kini soal gambut yang mereka permasalahkan. Pengembangan tanaman sawit telah memusnahkan kandung karbon yang ada di dalamnya. Dan mereka meyakini, dalam ketebalan gambut terkandung karbon yang mampu mengatisipasi terjadinya pemanasan global.
Namun itu hanyalah alasan mereka. Sebab, jauh sebelumnya, mereka juga sudah melontarkan serangan serupa, menuding pengembangan sawit, telah membunuh satwa liar dan menghilangkan jutaan plasma nutfah. Dan melakukan pembakaran hutan dalam proses ’land clearing’, padahal cara itu sudah lama ditinggalkan, dan sudah sejak lama menerapkan sistem ’zero burning’.
Persaingan Bisnis
Mungkin soal carbon footprint. Namun soal ini, belum diberlakukan sekarang oleh negara negara di kawasan Eropa. Baru tahun depan, sekitar Januari 2010, bahwa corbon footprint - jejak karbon, biodiesel dari minyak nabati, minimal pada level 35 persen. Inipun hanyalah akal –akalan mereka, sebab suatu yang sangat berat – bila tidak bisa disebut sangat tidak mungkin – untuk mencapai level itu.
Bagaimana mungkin, semua limbah minyak kelapa sawit diolah, itu paling maksimal, hanya bisa mencapai 32 persen. Ini dengan catatan, bila semua itu dilakukan secara optimal. Bila tidak, jejak karbon biodiesel asal sawit, tak lebih dari 16 persen. “ Jadi apa yang ditudingkan itu, semuanya hanyalah persaingan dagang,” tandas Akmaluddin Hasibuan, pakar sawit.
Akmal sangat memaklumi, berbagai kebijakan negara bagian di Amerika itu, tidak lepas dari tekanan kalangan NGO. Sebab, ada kekhawatiran, di sebagian konsumen minyak nabati di sana, dengan kian tingginya, penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, ini bakal menimbulkan krisis pangan, lantaran sawit terserap ke industri biodiesel.
Semestinya, mereka tidak usah takut akan kekurangan minyak sawit – kalau benar biodiesel sebagai penyebabnya. Sebab, penggunaan minyak sawit untuk biodiesel, mungkin tidak lebih dari 10 persen. Justru sebaliknya, pada saat ini biodiesel yang mereka produksi, kebanyakan berbahan baku kedelai, jagung, dan minyak matahari.
“Nah, mengapa mereka tidak melarang itu. Bukankah ini diskriminasi, karena hanya sawit yang mereka larang,” tandas mantan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia –
Gapki, ini lagi. “Jadi jelas ini hanya persaingan bisnis saja, mereka takut kehilangan eksistensinya,” tambah mantan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III itu.
Karenanya, Akmal menegaskan, Indonesia tak usah gentar menghadapi serangan dagang ini. Semakin kencang serangan, itu bertanda bahwa strategi Indonesia dalam merebut dan menguasai pasar sudah benar. Dan pemerintah jangan mudah terprovokasi pihak asing, lalu kemudian membuat kebijakan yang bakal memperlemah daya saing produk sawit Indonesia.
Komoditas sawit yang diproduksi Indonesia dan Malaysia, kini memang terus merambah berbagai pasar minyak nabati dunia. Dan juga ke kalangan industri di negara negara maju, karena sawit telah diorientasikan sebagai salah satu bahan baku energi biodiesel yang dapat diperbaharui. Eksistensi sawit ini telah mengancam kelangsungan minyak nabati yang bersumber dari minyak kedelai dan bunga matahari yang banyak diproduksi petani Amerika dan masyarakat Eropa.
Karenanya, kuatnya desakan kalangan petani produsen telah membuat para senator di kawasan negara itu untuk mempengaruhi pemerintahannya, agar memproteksi petaninya. Dan dengan menggunakan jalur Greenpeace, sebuah LSM internasional, mereka membawa isu lingkungan dalam menyerang sawit. “Itu semua politik dagang,” kata Ganjar Pranowo, anggota DPR-RI.
Bagaimana tidak, biodiesel maupun biofuel merupakan energi terbarukan. Lantaran suatu sumber energi yang bisa diperbaharui, ini jelas merupakan ancaman bagi energi yang bersumber dari fosil. Dan tidak hanya itu, biodiesel dari sawit juga menjadi ancaman biodiesel dari minyak kedelai dan minyak matahari, serta minyak jagung.
Selama ini, di sejumlah negara di Amerika maupun Eropa, jagung dan minyak kedelai, telah menjadi sumber bahan baku industri biodiesel mereka. Tentu dengan dijadikannya minyak sawit sebagai sumber bahan baku biodiesel, maka ini dianggap ancaman serius bagi mereka. “ Ancaman dan tuduhan-tuduhan itu, merupakan gaya kapitalis yang ingin berkuasa,” jelas Ganjar lagi.
Kenapa Hanya pada Sawit
Tidak hanya sebatas dari sisi lingkungan, mereka menyerang produk sawit. Tapi juga melalui berbagai regulator. Salah satunya, pengenaan pajak impor yang tinggi terhadap minyak sawit yang masuk pasar Amerika dan Eropa. Bahkan, mereka sempat mengeluarkan UE Derictive, suatu ketentuan khusus tentang ekspor CPO yang diperuntukkan sebagai bahan baku biodiesel.
Lalu menetapkan tanaman sawit tidak boleh ditanaman di areal yang memiliki biodiversity yang tinggi. Dan ironisnya, berbagai ketentuan itu tidak diberlakukan untuk tanaman soft oil, seperti sunflower, rape dan soybean. Jadi sungguh dapat ditebak, bahwa itu semua itu dilatarbelakangi ketakutan terhadap produk sawit,” kata Akmaluddin.
Data statistik menunjukkan, bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kurva dari minyak sawit terus meninggi. Bila 10 tahun silam, pasar minyak nabati masih dikuasai kedelai, sekitar 27,8 persen, tapi kini sawit telah berada jauh di atasnya. Terakhir disebutkan, sawit telah menguasai paling sedikit 47 persen. Sementara, kedelai hanya berkisar 38 hingga 40 persen, lobak dan bunga matahari, hanya berada pada posisi 18 dan 10 persen.
Pada saat ini memang, pangsa sawit lebih banyak ke kawasan India dan Cina. Baru sebagian kecil ekspor minyak sawit ke kawasan Eropa dan Amerika. Dan untuk ke Amerika, seperti disebutkan Anton Apriyantono, memang tidak dilakukan secara langsung, melainkan melalui negara ketiga – sebagai eksportirnya disebutkan, Wilmar International.
Wilmar International, memang sebuah kelompok usaha yang didirikan pengusaha nasional Martua Sitorus bersama pengusaha Singapore, Koek Khon Hong, pada tahun 1991 – yang kini bermarkas di Singapura. Kelompok usaha ini selain sebagai traders juga memiliki perkebunan sawit yang cukup luas di Indonesia dan Malaysia, berikut industri pengolahan sawit, termasuk biodiesel yang berlokasi di Dumai, Riau.
Tampaknya kondisi inilah yang membuat serangan terhadap sawit semakin digencarkan. Kondisi ini memang harus diantisipasi pemerintah Indonesia dengan kebijakan yang mampu menguatkan daya dukung sawit Indonesia dalam mempertahankan serangan, sekaligus mengguritakan pangsa pasar.
Tidak ada alasan, sebenarnya bagi pihak asing menuding sawit merusak lingkungan. Konsep sustainable dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit, sudah sejak lama diterapkan. Sebut saja misalnya, dalam penentuan lokasi. Ini tidak serta merta semua kawasan hutan bisa dijadikan ladang sawit.
Ada regulasi yang mensyaratkan hanya kawasan non kehutanan yang boleh dijadikan perkebunan sawit. Sawit tidak bisa dikembangkan di kawasan hutan produksi. Terlebih lagi pada kawasan lindung dan konservasi, ini sangatlah “diharamkan”. Sementara pemanfaatan hutan konversi harus mendapat persetujuan Menteri Kehutanan, dan ini harus melalui suatu proses yang cukup panjang dengan persyaratan yang sarat dengan aspek lingkungan.
Begitupun dengan pembukaan lahan atau land clearing. Sudah sejak lama diharamkan pembukaan lahan dengan pembakaran. Ketentuan zero burning tak bisa ditawar lagi, kendati areal itu hanya seluas 1 hektar. “Sanksi yang dikenakan terhadap perusahaan perkebunan yang melanggar ketentuan ini sangatlah berat.”
Pun sama dengan penerapan prinsip-prinsip dan kriteria Roundtable Sustainable of Palm Oil – RSPO, sebagai produsen, komitmen perusahaan perkebunan sangatlah tinggi. Buktinya, kini mereka berlomba-lomba berbenah demi mendapatkan pengakuan, bahwa prinsip dan kriteria RSPO memang diterapkan. Padahal, kalau mau jujur, berbagai prinsip dan ketentuan yang dituangkan dalam buku biru RSPO itu, belum seluruhnya disetujui para anggotanya.
Namun, lantaran tingginya komitmen terhadap aspek lingkungan, dan demi terwujudnya kontinyunitas bisnis perkebunan yang lebih ramah lingkungan, tidak ada pilihan lain, bahwa konsep sustainable dalam bisnis sawit, mutlak perlu diaplikasikan. Dan jelas, terlampau naïf bila pihak asing, terus mempersoalkan dampak lingkungan, padahal niatan mereka jelas, karena ketidakfairan dalam perdagangan.
Sawit Sulit Ditandingi
Kalau mau jujur, sawit memang tidak bisa ditandingi dengan kedelai maupun minyak matahari. Terlampau banyak keunggulan yang dimiliki sawit. Dalam soal harga misalnya, sawit relatif lebih rendah ketimbang kedelai. Ini lebih dikarenakan kedelai sebagai tanaman semusim, membutuhan biaya produksi terus-menerus, karena seusai panen, lalu kemudian dilakukan pengolahan tanah kembali dengan menerapkan sistem mekanisasi.
Tentu proses ini membutuhkan biaya tinggi. Terutama untuk kebutuhan bahan bakar minyak dan pupuk anorganik. Padahal, harga BBM dan pupuk ini setiap tahun terus meningkat, sehingga menyebabkan biaya produksi kedelai ikut meningkat. Belum lagi, faktor iklim dan serangan hama yang terkadang dapat menyebabkan tanaman kedelai gagal panen.
Sawit tidak demikian. Sebagai tanaman tahunan, sawit hanya membutuhkan biaya besar pada saat awal penanaman. Berikutnya hanya biaya pemeliharaan, termasuk pemupukan yang pembiayaannya, sudah diperhitungkan sejak awal.
Dari unsur kandungan nutrisi, kendati petani Amerika sempat melontarkan sawit memiliki kandungan kolesterol yang sangat tinggi, namun faktanya tidaklah demikian. Berbagai penelitian telah membuktikan, minyak sawit mengandung kolestrol yang sangat rendah. Ini sekitar 3 mg /kg, sementara yang lain di atas itu, terlebih bila disebutkan lemak hewani, yang mengandung kolestrol antara 50 – 100 kali minyak sawit.
Dalam hal kandungan kalori dan vitamin, minyak sawit memang dinilai merupakan sumber kalori dan vitamin yang cukup baik untuk kesehatan. Minyak sawit dikenal sebagai minyak nabati yang kaya dengan vitamin A dengan kandungan betakarotennya mencapai 1.000 mg/kg. Dengan berbagai keunggulan yang dimiliki minyak sawit, jelas membuat petani kedelai Amerika dan Eropa, memang harus melakukan reaksi demi kontinyunitas pertaniannya. Dan gerakan petani ini memang didukung penuh oleh pemerintahan setempat dan para senatornya. Selain di-back up habis kelompok pecinta lingkungan. *** Har, Tom, Uka