News & Events March 4th, 2010 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) mencatat total volume perdagangan ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang tahun 2009 mencapai 15,5 juta ton yang berarti ada peningkatan hampir 2 juta ton dibandingkan tahun 2008 sejumlah 13,8 juta ton. Pertambahan ini membuktikan CPO merupakan komoditas yang terus diminati oleh negara-negara di dunia untuk dijadikan bahan baku pangan dan energi, ditengah kondisi ekonomi dunia yang sedang melemah. Pada 2009, angka perdagangan ekspor terus meningkat dari kuartal I hingga kuartal IV. Di kuartal I, ekspor CPO sebesar 3,38 juta ton lalu bertambah menjadi 3,91 juta ton di kuartal II. Selanjutnya terus meningkat menjadi 4,07 juta ton di kuartal III. Volume ekspor tertinggi terjadi pada kuartal IV sebanyak 4,1 juta ton lantaran adanya perayaan hari besar agama seperti Idul Adha, Hari Raya Natal, serta Tahun Baru. Biasanya, momentum ini memicu peningkatan kebutuhan minyak makan sehingga turut mempengaruhi konsumsi CPO. Sementara itu untuk nilai ekspor mengalami penurunan dari tahun 2008. Menurut Sekretaris Jendral Gapki, Joko Supriyono, faktor turunnya harga CPO di awal tahun 2009 mengakibatkan nilai ekspor minyak sawit Indonesia terkoreksi cukup signifikan. Hal ini disebabkan pergerakan harga CPO tahun 2009 lebih rendah dari 2008. Dibandingkan tahun 2008 yang nilai ekspornya mencapai US$ 15,58 miliar, maka nilai ekspor CPO pada 2009 turun menjadi US$ 10 miliar. Di kuartal I 2009 nilai ekspor CPO sebesar US$ 2 miliar yang kemudian bertambah menjadi US$ 2,8 miliar. Kuartal III, nilai ekspor meningkat US$ 300 juta menjadi US$ 3,1 miliar. Tetapi pada kuartal IV, kinerjanya menurun menjadi US$ 1,9 miliar. Tahun 2010, diperkirakan harga CPO akan mengalami kenaikan setidaknya hingga kuartal I dengan kisaran US$ 800-US$850/ton. Sementara itu permintaan dunia terhadap minyak sawit juga akan meningkat lebih tajam, sehingga berdampak positif kepada peningkatan volume ekspor CPO Indonesia yang diperkirakan mencapai 18 juta ton pada 2010. China-Asean FTA Berdampak Positif Terhadap Pemberlakuan China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA) yang mulai berlangsung 1 Januari 2010, akan memberikan angin segar bagi produsen dan eksportir CPO Indonesia. Tentu saja, perdagangan minyak sawit ke negara tirai bambu ini diprediksi dapat meningkat signifikan dibandingkan sebelum lahirnya FTA. Dengan memberlakukan tarif 0% ini artinya membuka peluang peningkatan daya saing harga CPO ke negara tersebut. Sepanjang empat tahun terakhir ini, kebutuhan impor CPO China selalu di atas angka 5 juta ton. Negara Tirai Bambu ini memerlukan minyak sawit untuk dijadikan bahan baku pembuatan minyak goreng dan mie instan yang menjadi makanan pokok masyarakatnya. Selain itu CPO dan produk turunannya juga digunakan oleh pelaku industri oleokimia China di mana negara ini merupakan produsen utama oleokimia dunia. Berdasarkan data Gapki tahun 2009, pasar CPO di China telah mencapai 6 juta ton dan palm kernel oil sebanyak 500 ribu ton. Sebelumnya pada 2008, Cina mengimpor CPO sebanyak 5,28 juta ton. Pada 2008, Gapki mencatat ekspor CPO Indonesia ke China mencapai 1,9 juta ton. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat pesat seiring dengan pemberlakukan FTA mulai 2010. Menurut Sekretaris Jendral Gapki, Joko Supriyono, penerapan China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA) akan mempermudah dan menambah volume ekspor CPO Indonesia ke China.”Makanya kami memperkirakan terjadi kenaikan permintaan minyak sawit dari China,”ungkap Joko. Pada 2010, Cina diperkirakan mengimpor CPO di atas angka 6 juta ton yang ditargetkan Indonesia dapat mengekspor 2 juta ton CPO. Tetapi, kata Joko, permintaan CPO ini kemungkinan dapat bertambah karena pemerintah Cina sedang mengembangkan pemakaian biodiesel. ”Saat ini, tinggal usaha kita memanfaatkan peluang tersebut dengan meningkatkan daya saing kita dan mengembangkan pasar tradisional seperti Cina,” ujarnya kembali. Sebelum pemberlakuan tarif CAFTA, China memberlakukan tarif impor minyak sawit mentah (CPO) sebesar 9%, tarif impor palm oil (excl. crude) & liquid fractions 9%, tarif impor palm stearin 8%, tarif other palm oil and its fractions sebesar 9%, tarif impor crude palm kernel oil & fractions thereof sebesar 9%, tarif impor palm kernel oil (excl. crude) & fractions thereof sebesar 9%. Di produk hilir minyak sawit, Cina menerapkan tarif impor industrial tall oil fatty acids sebesar 16% , tarif industrial fatty alcohols sebesar 13% dan tarif impor palmitic acid 5,5%. Direktur Eksekutif Gapki, Fadhil Hasan menjelaskan pemberlakuan Free Trade Agreement Asean-China jelas menguntungkan perdagangan ekspor CPO Indonesia ke China yang merupakan pasar CPO terbesar di dunia. Selama ini, Indonesia lebih banyak mengekspor minyak sawit dalam bentuk mentah, karena China menerapkan tarif lebih tinggi kepada produk turunan CPO Indonesia. Pada 2009, pasar minyak nabati Cina mencapai 30 juta ton di mana minyak kedelai memiliki porsi 40%, minyak sawit 24%, minyak kanola 17% dan minyak kacang 7,5%. Menurut Fadhil, pemberlakuan tarif FTA sebesar 0% membuat produk CPO Indonesia dan turunannya lebih kompetitif dengan Malaysia. Selain itu, produk minyak sawit Indonesia dapat menyaingi komoditi minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak kanola dan minyak bunga matahari. ”Keuntungan lain, harga CPO lebih kompetitif dengan minyak nabati lainnya,” paparnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai perdagangan ekspor CPO Indonesia ke China sebesar US$ 119,8 juta pada 2006, selanjutnya meningkat menjadi US$ 158,2 juta pada 2007. Pada 2008, nilainya bertambah menjadi US$ 240 juta. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi |


